Di setiap acara persyarikatan, selalu ada satu sosok yang diam-diam punya peran penting menjaga suasana tetap hangat, cair, dan penuh keakraban. Di lingkungan Muhammadiyah Cabang Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kembaran, sosok itu adalah Fathurrohman—yang justru lebih akrab dipanggil Pak Iwan.

Beliau bukan tipe MC yang berdiri kaku di depan mikrofon sambil terpaku pada teks. Pak Iwan membawa acara seperti sedang ngobrol dengan jamaah sendiri. Kalimatnya mengalir, sesekali diselingi celetukan ringan yang membuat hadirin tersenyum, bahkan tertawa kecil, tapi tetap dalam koridor santun. Suasana jadi terasa dekat. Tidak ada jarak antara panggung dan jamaah.

Ahad, 15 Februari 2026 kemarin, beliau kembali tampil memandu Tabligh Akbar Selapanan yang digelar di PRM Linggasari, bertempat di Masjid Sirandu, Kembaran, Banyumas. Sejak awal acara, nuansa kebersamaan sudah terasa. Jamaah yang datang tidak hanya mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi benar-benar menikmati setiap momen. Itulah kekuatan Pak Iwan—membuat acara terasa hidup tanpa harus dibuat-buat.

Gaya beliau sederhana, tapi justru di situlah letak profesionalismenya. Ia paham kapan harus mencairkan suasana, kapan harus memberi penekanan, dan kapan harus membawa forum kembali khidmat. Tidak berlebihan, tidak juga datar. Semuanya pas. Pengalaman yang panjang dalam memandu berbagai kegiatan membuatnya mampu membaca situasi dengan cepat, seolah sudah tahu “irama” acara bahkan sebelum acara berjalan.

Bagi banyak orang, menjadi MC mungkin hanya soal membacakan susunan acara. Namun bagi Pak Iwan, ini adalah bagian dari dakwah juga. Dengan suasana yang menggembirakan, orang jadi betah hadir di majelis. Dengan bahasa yang ramah, pesan lebih mudah diterima. Dengan pendekatan yang hangat, kebersamaan terasa lebih nyata.

Karena itu, kehadiran beliau hampir selalu dirindukan. Bukan hanya sebagai pembawa acara, tetapi sebagai penghidup suasana—yang membuat sebuah kegiatan terasa lebih berkesan, lebih dekat, dan lebih membahagiakan bagi jamaah yang hadir.