DONASI

NAVIGASI

Menjaga Kemurnian Amal dari Racun Riya’

Redaksi
Redaksi PCM Kembaran
29 April 2026521 Kali Dibaca

Menjaga Kemurnian Amal dari Racun Riya’
Oleh: Santhy Hawanti, Ph.D.
(Dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto)

Assalamualaikum, Wr.Wb

Dalam perjalanan seorang hamba menuju rida Allah, menjaga keikhlasan adalah perjuangan yang tidak pernah usai. Setelah kita memahami betapa besarnya faedah ikhlas, tantangan sesungguhnya adalah menjaganya dari berbagai penyakit hati yang mampu menghancurkan seluruh nilai amal kita. Di antara sekian banyak kotoran hati, terdapat dua penyakit besar yang paling berbahaya, yakni riya’ dan ujub.

Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ru'yah yang berarti melihat. Maknanya, seseorang sengaja memperlihatkan amal shalihnya kepada manusia agar mendapatkan pengakuan. Penyakit ini memiliki saudara yang disebut sum’ah, yaitu tindakan memperdengarkan amalan kepada orang lain dengan tujuan yang sama, yakni mencari pujian. Contoh sederhananya adalah seseorang yang menceritakan sedekah atau shalat malamnya agar dianggap sebagai orang yang bertakwa.

Hal yang perlu kita sadari adalah riya’ dan ujub justru lebih sering menyerang orang-orang yang shalih, mereka yang rajin shalat, bersedekah, dan ikut pengajian bukan pelaku maksiat. Sebab, bagi pelaku maksiat, tidak ada yang bisa mereka banggakan atau pamerkan dari perbuatan dosanya. Karena saking halusnya, Rasulullah ﷺ menyebut riya’ sebagai syirik khafi (syirik yang samar) dan beliau lebih mengkhawatirkan penyakit ini menimpa umatnya daripada fitnah Dajjal.

Allah ﷻ memberikan perumpamaan yang sangat mengerikan bagi orang yang beramal karena riya’. Amal mereka diibaratkan seperti tanah di atas batu yang licin. Dari luar, terlihat subur dan menjanjikan, namun saat ditimpa hujan deras (ujian atau hari kiamat), tanah itu hilang seketika dan hanya menyisakan batu gersang yang tidak bisa menumbuhkan apa pun. Itulah hakikat amal yang tercampur riya’; tidak ada pahala yang tersisa sama sekali.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam lubang riya’, mulai dari tumbuh di lingkungan keluarga yang suka pamer, salah bergaul dengan teman yang hobi memuji, hingga ketidaktahuan akan hakikat keagungan Allah. Bahkan, keinginan untuk sekadar tampil atau kecanduan terhadap pujian bisa menjadi pintu masuk yang mematikan bagi amal kita. Bagaimana kita mendeteksi apakah penyakit ini sudah menjangkiti hati kita? Tanda-tandanya sangat nyata jika kita mau merenung:

  1. 1. Kita merasa malas beribadah saat sendirian, namun tiba-tiba menjadi sangat semangat ketika berada di tengah orang banyak.
  2. 2. Ibadah kita menjadi semakin giat saat dipuji, namun langsung kendor atau bahkan berhenti ketika dicela atau tidak diperhatikan.
  3. 3. Kita hampir tidak pernah mengecek niat kita sendiri sebelum, saat, dan setelah beramal.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk selalu waspada dan sesering mungkin mengevaluasi niat. Sebagaimana kisah para salaf yang berhenti sejenak sebelum melangkah hanya untuk menata niatnya, kita pun harus sadar bahwa satu amalan saja bisa membutuhkan beberapa kali pembenahan niat karena hati manusia begitu mudah berbolak-balik. Semoga Allah melindungi kita dari penyakit riya’ yang dapat menggugurkan seluruh kebaikan yang kita usahakan.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Diskusi Jamaah

0 Tanggapan

Silakan masuk untuk berdiskusi.