Investasi Waktu: Menjemput Keberkahan dengan Meninggalkan Kesia-siaan
Oleh: Santhy Hawanti, PhD.
(Dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto)
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dalam keseharian seorang Muslimah, waktu adalah aset yang paling berharga, namun sering kali paling mudah terbuang. Di antara tumpukan pekerjaan rumah tangga dan interaksi sosial, ada sebuah standar emas yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk mengukur kualitas iman kita: “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah kompas agar hidup kita penuh berkah, baik sebagai hamba Allah, seorang istri, maupun seorang ibu.
Waktu: Amanah yang Akan Dipertanggungjawabkan
Sering kali kita lupa bahwa setiap detik yang kita lalui adalah amanah. Allah ﷻ bersumpah demi masa dalam Surah Al-Asr untuk mengingatkan bahwa manusia benar-benar berada dalam kerugian jika tidak mengisi waktunya dengan iman, amal shalih, dan saling menasihati. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan kita untuk memanfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya, salah satunya adalah memanfaatkan masa luang sebelum datang masa sibuk. Bagi seorang ibu, masa luang adalah kesempatan emas yang jika tidak dikelola dengan iman, akan habis ditelan oleh aktivitas yang sia-sia.
Mengenali "Pencuri" Waktu dalam Keseharian
Tanpa sadar, banyak hal kurang bermanfaat yang menyelinap dalam rutinitas kita. Beberapa contoh nyata yang sering kita temui antara lain:
- Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling tanpa tujuan atau menonton tayangan yang tidak menambah ilmu.
- Terjebak dalam gosip saat arisan atau obrolan yang menyakiti hati saudara sesama Muslimah.
- Terlalu asyik dengan hiburan hingga menunda waktu shalat atau melalaikan perhatian kepada anak-anak.
- Mengeluh berlebihan tanpa tawakal dan membiarkan hati kosong dari cinta kepada Allah karena terlalu sibuk merindukan perhiasan duniawi.
Langkah Praktis Menuju Perubahan
Meninggalkan hal yang sia-sia memerlukan ketegasan pada diri sendiri. Salah satu metode yang diajarkan para ulama adalah Mu’aqabah, yaitu memberikan sanksi atau "hukuman" mendidik bagi diri sendiri ketika kita melakukan kesalahan. Misalnya, jika kita terlewat shalat Tahajjud, kita menggantinya dengan shalat Dhuha 12 rakaat atau bersedekah. Jika lisan tergelincir membicarakan orang lain, tebuslah dengan memperbanyak dzikir dan tilawah.
Melibatkan keluarga untuk saling mengingatkan dan membuat jadwal harian yang teratur, mulai dari dzikir pagi, mendidik anak, hingga muhasabah sebelum tidur, akan sangat membantu kita tetap konsisten di jalan yang bermanfaat.
Meninggalkan kesia-siaan adalah bentuk investasi terbaik untuk keberkahan rumah tangga. Saat kita mampu memilah mana yang penting bagi akhirat dan mana yang hanya fatamorgana, hati akan terasa lebih tenang dan energi positif akan terpancar dalam keluarga. Mari kita jadikan setiap detik yang kita miliki sebagai ladang pahala, agar kelak kita tidak termasuk golongan orang yang merugi saat menghadap Sang Pemilik Waktu.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.





Diskusi Jamaah
0 Tanggapan
Silakan masuk untuk berdiskusi.