DONASI

NAVIGASI

Menghidupkan Hakikat Kurban dalam Kehidupan

Redaksi
Redaksi PCM Kembaran
25 Mei 2026•513 Kali Dibaca

Menghidupkan Hakikat Kurban dalam Kehidupan
Penulis: Santhy Hawanti, Ph.D.
(Dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan membeli hewan ternak, menyembelihnya, lalu membagikan dagingnya. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum besar untuk meresapi kembali makna keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian sosial.

Rasulullah SAW memberikan penekanan yang sangat kuat mengenai pentingnya ibadah ini bagi mereka yang mampu melalui sabda beliau:
"Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) lalu dia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

1. Teladan Ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Akar dari ibadah kurban adalah kisah keteguhan iman keluarga Nabi Ibrahim AS. Melalui QS. As-Saffat ayat 102, Allah mengabadikan momen ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah lewat mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail.

Bayangkan sebuah ujian di mana seorang ayah harus mengorbankan anak yang telah dinantinya selama bertahun-tahun. Namun, apa jawaban Nabi Ismail? Beliau berkata:
"Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. As-Saffat: 102).

Ketika pisau sudah di leher dan ketaatan keduanya telah mencapai puncaknya, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba yang besar. Pelajaran terbesar dari peristiwa ini adalah penyerahan diri secara total kepada Allah SWT.

Allah tidak butuh darah atau daging hewan kurban kita, melainkan ketakwaan yang ada di dalam hati kita. Allah SWT menegaskan hal ini dalam Al-Qur'an:
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang mencapai (keridhaan)-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj: 37).

2. Kurban: Menyembelih Sifat Kehewanan dan Ego Diri

Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba yang berarti dekat. Artinya, ibadah kurban adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Secara simbolis, menyembelih hewan kurban dinilai para ulama sebagai simbol untuk menyembelih sifat-sifat kehewanan yang ada di dalam diri manusia, seperti sifat egois, serakah, merasa benar sendiri, dan tidak peduli pada sesama.

Di samping kurban harta, kurban yang paling nyata—namun terkadang paling berat dalam keseharian—adalah kurban perasaan. Khususnya dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, kurban perasaan adalah seni mengalah. Mengalah di sini bukan karena kita kalah atau lemah, melainkan demi menjaga keharmonisan, kedamaian, dan ukhuwah di bawah atap yang sama. Allah SWT memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan sesama:
"(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali 'Imran: 134).

3. Dimensi Sosial dan Kepedulian

Islam adalah agama yang menyeimbangkan hubungan dengan Pencipta (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Ibadah kurban adalah wujud nyata dari keseimbangan tersebut. Melalui daging kurban yang dibagikan, kita menghadirkan kebahagiaan di meja makan saudara-saudara kita yang barangkali jarang menikmati daging di hari-hari biasa.

Mengenai pembagian hasil kurban ini, Allah SWT berfirman:
"Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir." (QS. Al-Hajj: 28).

Ibadah ini meruntuhkan sekat pembatas antara si kaya dan si miskin, lalu menyatukannya dalam rasa syukur yang sama.

Mari kita maknai Idul Adha kali ini bukan sekadar rutinitas tanpa bekas. Jika kita memiliki kelapangan rezeki, segerakanlah berkurban sebagai wujud syukur. Namun jika belum mampu secara materi, mari kita berkurban dengan tenaga, pikiran, serta kelapangan hati untuk selalu menahan ego, taat kepada Allah, dan menebar manfaat bagi sesama.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mengelompokkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Diskusi Jamaah

0 Tanggapan

Silakan masuk untuk berdiskusi.